gue mendadak pengen jadi ustadz :) lebih tepatnya saling mengingatkan saja layaknya seorang muslim. . tujuan hidup menurut gue melakukan perintah allah itu wajib, hubungan sesama manusia juga harus baik, bukankah seorang muslim itu bersauadara satu sama lain? lalu kenapa saling mencela dan merendahkan. .
Dari Mu’adz bin Jabal Radiyallahu’anhu ia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ”Barang siapa menghina saudaranya karena melakukan suatu dosa maka dia tidak akan meninggal dunia sebelum melakukan dosa tersebut”. (HR. at Tirmidzi yang menilainya hasan namun sanadnya munqathi’)
Islam sangat menjunjung
tinggi kepribadian dan nama baik setiap orang khususnya seorang Muslim
dan Mukmin. Diriwayatkan dari Imam Musa Kazhim As bahwa suatu hari
beliau berdiri di hadapan Ka’bah dan berkata kepada Ka’bah, “Wahai
Ka’bah! Alangkah agungnya hakmu namun demi Allah hak seorang beriman
lebih agung dari hakmu.”
Dari sisi lain, Islam memandang menghujat dan berkata tidak senonoh
sebagai perbuatan tercela dan tidak terpuji. Rasulullah Saw bersabda,
“Allah Swt mengharamkan surga bagi orang-orang yang gemar menghujat,
berkata-kata buruk dan kurang malu yang tidak tahu menjaga omongannya.”
Terkhusus kebanyakan tuduhan akan terlontar dalam ucapan-ucapan yang tidak senonoh dan dusta.
Al-Quran dalam mencela orang-orang yang menampakkan keburukan orang lain, menyatakan bahwa “Allah tidak menyukai seseorang menampakkan keburukan orang lain dengan ucapannya, kecuali orang yang dianiaya.” (Qs. Al-Nisa [4]:148)
Mengingat bahwa Allah Swt adalah “Sattar al-‘Uyub”
(Mahapenutup aib-aib) tidak suka orang-orang yang mengungkit-ungkit aib
orang-orang dan membuat orang-orang malu. Di samping itu, kita tahu
bahwa setiap manusia khususnya berusaha untuk menutupi titik
kelemahannya sehingga apabila aib-aib ini diungkap maka mental prasangka
buruk akan tersebar di tengah masyarakat dan sesama anggota masyarakat
akan sulit mengadakan kerjasama.. .
Oleh itu, karena penguatan hubungan-hubungan sosial diperlukan dan demi
terjaganya wibawa serta nama baik seseorang maka tanpa menimbang satu
tujuan yang benar maka sebaiknya aib-aib orang tidak diungkap
Namun demikian ayat hanya membolehkan satu hal keburukan-keburukan
orang-orang diungkap di tengah masyarakat dan hal itu berkaitan dengan
kezaliman yang menimpa seseorang. Orang yang dizalimi dapat menjelaskan
keburukan-keburukan dan kejahatan-kejahatan orang yang menzalimi dan
memberitahukan orang lain tentang kezaliman yang menimpanya..
Karena itu, tiada seorang pun yang dapat menghina seseorang atau
orang-orang dan mengungkap aib-aib mereka di hadapan umum hanya karena
kesalahan kecil atau adanya perbedaan pendapat atau merasa bersedih
karena ulah orang tersebut. Bahkan ia harus berusaha membalas kejahatan
dan aib-aib mereka dengan sikap pengasih dan menunjukkan sikap prihatin
serta membimbing mereka. Khususnya terkait dengan keluarga atau handai
taulan yang rencananya akan hidup bersama kita selama puluhan tahun.
Kita harus mencermati bahwa berkata-kata buruk sangat berbahaya dan akan
menyisakan pengaruh buruk pada mental setiap orang untuk masa yang
lama. Karena itu, apabila seseorang melakukan hal tersebut maka secepat
mungkin ia harus meminta maaf dan menebus penghinaan ini.
Dari sisi lain, seseorang yang dizalimi dan dikata-katai buruk oleh
orang lain harus berbesar hati dan berlapang dada untuk melupakan
penghinaan ini serta berupaya untuk menjauhkan segala dendam dan usaha
untuk membalas, khususnya apabila dilakukan oleh orang-orang dekat
seperti ayah dan ibu istri, dan lain sebagainya yang tentu saja memiliki
hak yang banyak padanya. Oleh itu, ia harus melupakannya dan mencamkan
baik-baik bahwa Allah Swt akan mengganjari pahala yang besar atas sikap
memaafkan ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar